Bahaya Pengaruh Alkohol Saat Berkendara - Indonesia Safety Driving Centre (ISDC) - Pusat Pendidikan dan Pelatihan Keselamatan Berlalu Lintas
Beranda > Artikel > Bahaya Pengaruh Alkohol Saat Berkendara

Bahaya Pengaruh Alkohol Saat Berkendara
Tanggal Terbit: 2015-08-04 13:55:06 Sumber: ayoselamat.org Dilihat: 453

Masih ingat kasus kecelakaan di Tugu Tani yang melibatkan pengendara maut Afriani Susanti? Di Minggu (12/01/12) pagi yang kelabu itu, tiba-tiba saja mobil yang ditumpangi Afriani keluar jalur dan menabrak rombongan pejalan kaki. Sembilan nyawa pun melayang. Belakangan diketahui bahwa wanita 31 tahun itu berkendara di bawah pengaruh alhokol dan narkotika ketika kecelakaan terjadi.

Kecelakaan yang melibatkan Afriani hanyalah satu dari banyak kasus serupa, bukan hanya di Indonesia tapi juga di berbagai negara lain. Minuman keras secara global memang masih menjadi favorit masyarakat untuk melepas stress dan penat, khususnya para pecinta dunia malam. Sayangnya, kesadaran untuk tidak berkendara setelah mengonsumsi minuman beralkohol masih belum banyak diterapkan.

Menurut data Badan Pusat Statistik, pada 2009 tercatat 62.960 kecelakaan lalu lintas, dimana 19.979 diantaranya berakibat kematian. Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya, dari seluruh faktor manusia dalam memicu kecelakaan pada 2009, faktor mabuk berkontribusi sekitar 0,17%. Tapi, setahun kemudian melonjak menjadi sekitar 1,31%. Sementara, data 2009 yang dikeluarkan oleh Badan Survei untuk Penggunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif (NAPZA) dan Kesehatan Amerika Serikat memperkirakan 10.5 juta responden berusia mulai usia 12 tahun mengemudi dibawah pengaruh NAPZA ilegal. Jumlah ini merupakan 4.2% dari populasi warga AS pada jenjang usia 12 tahun dan keatas.

Bukan hanya mengancam keselamatan pengendara dan orang lain, negara juga dirugikan dalam setiap kasus kecelakaan akibat berkendara dalam pengaruuh alkohol dan NAPZA. Pada tahun 2000, kerugian pemerintah Amerika Serikat karena kecelakaan saat mengemudi dalam keadaan mabuk diperkirakan sebesar 114,3 miliar dolar. Kematian akibat alkohol secara keseluruhan merugikan AS sebesar 3,5 miliar dolar (31,3 triliun rupiah).

Artinya, pada tahun 2000, biaya rata-rata yang harus ditanggung masyarakat adalah 1 dolar (9 ribu rupiah) per satu porsi minuman alkohol. Pengurangan tingkat kecelakaan sebesar 10% saja untuk kasus mengemudi dalam keadaan mabuk akan menghemat 1.8 miliar dolar (15.9 triliun rupiah)pengeluaran masyarakat untuk klaim asuransi serta kerugian secara umum. Demikian analisa yang dikeluarkan oleh National Highway Traffic Safety Administration sebuah badan administrasi keselamatan lalu lintas di AS.

Fakta akan bahaya dan kerugian-kerugian yang ditimbulkan akibat mengemudi sambil mabuk, seharusnya membuka mata kita untuk mulai membangun kesadaran tentang keselamatan berkendara. Jadi, sayangilah lingkungan dengan memulainya dari peduli terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.